Judul
Buku :
Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Pengarang :
Soekaro
Kota terbit :
Yogyakarta
Tahun Terbit :
2000
No. Klasifikasi :
KK . 320 . 54 SOE n
Subjek :
Islam
No Induk :
0000105
Jumlah Halaman : 55
Sinopsis :
Buku ini merupakan penerbitan
kembali naskah lama yang telah dimuat dalam “Suluh Indonesia Muda” pada tahun
1926. Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme merupakan asas-asas yang di peluk
oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia, yang apabila bergabung akan
menghasilkan suatu persatuan yang dapat digunakan untuk mencapai Indonesia
Medeka. Islamisme adalah suatu agama (islam) yang pada hakekatnya tiada bangsa
karna dipeluk oleh berbagai macam bangsa dan ras. Nasionalisme ialah suatu
I’tikad bahwa rakyat itu ada dalam satu golongan dan satu bangsa. Sedangkan Marxisme
merupakan suatu paham yang internasional, yang bersekutu dengan pihak asing.
Menrut bung Karno, walaupun
memiliki paham yang berbeda tapi sesungguhnya Nasionalisme dalam perjuangan
penjajahan dapat bergandengan dengan Islamisme yang pada hakekatnya tiada
bangsa. Nasionalisme juga dapat melekat dengan Marxisme yang internasional dan
Inter-rasional. Hal ini terjadi karena manusia yang melakukan pergerakan
tersebut semuanya mempunyai “keinginan hidup menjadi satu” ; merasa satu
golongan dan satu bangsa karena bersama-sama bernasib tak merdeka selama beratus-ratus
tahun, sehingga apabila kerukunan dan persatuan antara ketiga golongan tersebut
dapat tercapai maka kemerdekaan Indonesia dapat diterima.
Akan tetapi harapan tersebut
sulit terwujud karena banyak terjadi salah paham diantara mereka. Banyak
nasionalis-nasionalis yang lupa ahwa pergerakan Nasionalisme, Islamisme, dan
Marxisme di Indonesia ini sama tujuannya, yaitu melawan Capitalism dan
Imperialisme Barat. Mereka juga lupa bahwa orang Islam dimanapun dia berada
wajib berjuang untuk keselamatan negrinya, dan kaum Nasionalis itu tidak
melihat kalau sering kali arah pergerakannya searah dengan pergerakan Marxisme.
Hal ini terjadi juga pada pergerakan Islamisme dimana kaum Islam “fanatic”
menghina politik kebangsaan dari kau Nasionalis, dan kerejekian dari kaum
Marxisme mereka memandang politik kebangsaan itu sengit dan politik kerejekian
itu kasar. Selain itu para Nasionalis dan Marxisme tadi menyalahkan agama Islam,
karena saat itu negri-negri Islam didunia banyak yang berada dibawah
pemerintahan negri-negri Barat, sehingga dianggap rendah derajatnya dan rusak
budi pengertinya . kesalahpahaman tersebut harus di selesaikan karena persatuan
akan dapat dicapai apabila masing-masing pihak mau “memberi” kepada pihak lain
dalam berbagai hal.
Komentar :
Pertama membaca buku ini benar-benar
sulit utuk dimengerti, karena penggunaan bahasa yang terlalu konotatif, atau
karena hal yang tertuliskan terlalu bermakna, sehingga tak banyak orang
memahami isi buku tersebut. Tetapi menurut apa yang telah saya baca, saya
menemukan seorang penulis yang sangat ingin mempersatukan antara kaum Islam
dengan kaum Nasionalis, dan Marxisme. Seperti yang tertulis, kita mencoba
membuktikan bahwa paham Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu dalam negri
jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh
kurang sempurna kita menunjukkan teladan pemimpin-pemimpin di lain negri. Tapi
kita yakin, bahwa kita dengan terang benderang menunjukkan kemauan kita menjadi
satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insyaf, bahwa persatuan
yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan. Dan kita yakin pula bahwa
walaupun pikiran kita itu tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing
pihak, ia menunjukkan bahwa persatuan itu bisa tercapai. Sekarang tinggal
menetapkan organisatornya saja, yang menjadi Mahatma Persatuan itu. Kita harus
bisa menerima tetapi kita juga harus bisa memberi, inilah rahasianya peraturan
itu. Peraturan tak bisa terjadi, kalau masing-masing pihak tak mau memberi
sedikitpun. Dan jikalau kita semua insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya
tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi. Jikalau kita semua insyaf, bahwa
dalam perceraiberaian itu letaknya benih Perbudakan kita. Jikalau kita semua
insyaf, bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya “via dolorosa”,
jikalau kita insyaf, bahwa Roh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk
menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelapan
gumpita yang mengiringi kita ini, maka Pastilah Persatuan itu terjadi dan
pastilah Sinar itu tercapai juga. Sebab Sinar iu dekat!
DIAN
PUJI LESTARI / XII A3 / 11
kira " buku seperti itu masih di jual gga ya di gramed :)
BalasHapuskaya minat ne habis baca nie artikel :)
tantangan kreatif blogger Simak Tantangan Kreatif Blogger Berhadiah Mingguan & Grandprize Android