Halaman

Minggu, 26 Agustus 2012

Resensi Khusus (by:DPL)


Description: H:\books.jpg­­Judul Buku                        : Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Pengarang                         : Soekaro
Kota terbit                         : Yogyakarta
Tahun Terbit                      : 2000
No. Klasifikasi                  : KK . 320 . 54 SOE n
Subjek                               : Islam
No Induk                           : 0000105
Jumlah Halaman               : 55
Sinopsis                            :
                Buku ini merupakan penerbitan kembali naskah lama yang telah dimuat dalam “Suluh Indonesia Muda” pada tahun 1926. Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme merupakan asas-asas yang di peluk oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia, yang apabila bergabung akan menghasilkan suatu persatuan yang dapat digunakan untuk mencapai Indonesia Medeka. Islamisme adalah suatu agama (islam) yang pada hakekatnya tiada bangsa karna dipeluk oleh berbagai macam bangsa dan ras. Nasionalisme ialah suatu I’tikad bahwa rakyat itu ada dalam satu golongan dan satu bangsa. Sedangkan Marxisme merupakan suatu paham yang internasional, yang bersekutu dengan pihak asing.

                Menrut bung Karno, walaupun memiliki paham yang berbeda tapi sesungguhnya Nasionalisme dalam perjuangan penjajahan dapat bergandengan dengan Islamisme yang pada hakekatnya tiada bangsa. Nasionalisme juga dapat melekat dengan Marxisme yang internasional dan Inter-rasional. Hal ini terjadi karena manusia yang melakukan pergerakan tersebut semuanya mempunyai “keinginan hidup menjadi satu” ; merasa satu golongan dan satu bangsa karena bersama-sama bernasib tak merdeka selama beratus-ratus tahun, sehingga apabila kerukunan dan persatuan antara ketiga golongan tersebut dapat tercapai maka kemerdekaan Indonesia dapat diterima.
                Akan tetapi harapan tersebut sulit terwujud karena banyak terjadi salah paham diantara mereka. Banyak nasionalis-nasionalis yang lupa ahwa pergerakan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme di Indonesia ini sama tujuannya, yaitu melawan Capitalism dan Imperialisme Barat. Mereka juga lupa bahwa orang Islam dimanapun dia berada wajib berjuang untuk keselamatan negrinya, dan kaum Nasionalis itu tidak melihat kalau sering kali arah pergerakannya searah dengan pergerakan Marxisme. Hal ini terjadi juga pada pergerakan Islamisme dimana kaum Islam “fanatic” menghina politik kebangsaan dari kau Nasionalis, dan kerejekian dari kaum Marxisme mereka memandang politik kebangsaan itu sengit dan politik kerejekian itu kasar. Selain itu para Nasionalis dan Marxisme tadi menyalahkan agama Islam, karena saat itu negri-negri Islam didunia banyak yang berada dibawah pemerintahan negri-negri Barat, sehingga dianggap rendah derajatnya dan rusak budi pengertinya . kesalahpahaman tersebut harus di selesaikan karena persatuan akan dapat dicapai apabila masing-masing pihak mau “memberi” kepada pihak lain dalam berbagai hal.
Komentar                            :
                Pertama membaca buku ini benar-benar sulit utuk dimengerti, karena penggunaan bahasa yang terlalu konotatif, atau karena hal yang tertuliskan terlalu bermakna, sehingga tak banyak orang memahami isi buku tersebut. Tetapi menurut apa yang telah saya baca, saya menemukan seorang penulis yang sangat ingin mempersatukan antara kaum Islam dengan kaum Nasionalis, dan Marxisme. Seperti yang tertulis, kita mencoba membuktikan bahwa paham Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu dalam negri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh kurang sempurna kita menunjukkan teladan pemimpin-pemimpin di lain negri. Tapi kita yakin, bahwa kita dengan terang benderang menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insyaf, bahwa persatuan yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan. Dan kita yakin pula bahwa walaupun pikiran kita itu tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing pihak, ia menunjukkan bahwa persatuan itu bisa tercapai. Sekarang tinggal menetapkan organisatornya saja, yang menjadi Mahatma Persatuan itu. Kita harus bisa menerima tetapi kita juga harus bisa memberi, inilah rahasianya peraturan itu. Peraturan tak bisa terjadi, kalau masing-masing pihak tak mau memberi sedikitpun. Dan jikalau kita semua insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi. Jikalau kita semua insyaf, bahwa dalam perceraiberaian itu letaknya benih Perbudakan kita. Jikalau kita semua insyaf, bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya “via dolorosa”, jikalau kita insyaf, bahwa Roh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelapan gumpita yang mengiringi kita ini, maka Pastilah Persatuan itu terjadi dan pastilah Sinar itu tercapai juga. Sebab Sinar iu dekat!

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                DIAN PUJI LESTARI / XII A3 / 11

1 komentar:

  1. kira " buku seperti itu masih di jual gga ya di gramed :)
    kaya minat ne habis baca nie artikel :)
    tantangan kreatif blogger Simak Tantangan Kreatif Blogger Berhadiah Mingguan & Grandprize Android

    BalasHapus